Willy Aditya Cerita Tentang Nasdem yang Selalu Menang Banyak di Pilkada Serentak Hingga Sulitnya Membangun Political Bloc


PEKANBARU – Dari segi umur, Partai Nasdem dinilai masih sangat muda jika dibandingkan dengan partai-partai lain saat ini, namun nyatanya Nasdem kerap menjadi pemenang di setiap kali gelaran Pilkada, bahkan empat tahun berturut-turut Nasdem berhasil menang.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem Riau, Willy Aditya membeberkan empat faktor yang menjadikan partainya bisa menjadi partai pemenang di setiap Pilkada serentak.

Willy mengklaim, Nasdem adalah partai yang pertama mempopulerkan metode lembaga survey. Bahkan, di Pilkada pertama Nasdem, yakni tahun 2015, Nasdem menjalin kerjasama dengan 4 lembaga survey dan dibiayai penuh oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) partai.

Di Pilkada kala otu, lanjut Willy, Nasdem menjadi pemenang pertama dan pemenang kedua adalah PAN. Karena, pada waktu itu PAN disebut Willy ‘mengekor’ pada Nasdem. 

Strategi kemenangan itu terus dikembangkan pada Pilkada 2016, 2017, dan 2018 hingga akhirnya tahun 2019 Nasdem bisa menjadi penguasa parlemen keempat setelah PDIP, Golkar, dan Gerindra.

Pada Pilkada 2020 ini, Nasdem kembali menjalin kerjasama dengan 8 lembaga survey, namun pembiayaan jasa survey kali ini dibebankan kepada para calon. 

“Artinya, kita memakai pendekatan scientific, walaupun kita punya kader tapi kalau potensi menang tidak ada, ya forget it,” tegasnya, Sabtu malam (17/10/2020).

Alasan kedua, Nasdem sampai hari ini masih konsisten menerapkan prinsip politik tanpa mahar. Willy menjamin, setiap calon yang maju lewat Nasdem tidak dikenakan mahar apapun. 

Sebab, Nasdem memahami bahwa mahar adalah beban yang paling memberatkan para calon, sehingga Nasdem membebaskan para calon dari mahar. Hal ini yang membuat Nasdem menjadi ‘idol’ di Pilkada.

Yang ketiga, Nasdem juga memakai strategi ‘play to win’. Willy yang merupakan politisi berdarah Minangkabau ini menjelaskan dengan pepatah Minangkabau.

“Kalau kata pepatah, condong salero ka nan lamak, condong mato ka nan rancak, condong posisi ka nan manang. Udah gitu aja,” tegasnya.

Terakhir, Nasdem juga mamakai strategi talent scouting. Willy mencontohkan kemenangan Ridwan Kamil di Pilkada Jawa Barat. Dimana, Nasdem menjadi partai yang pertama memberi dukungan. Setelah itu, Nasdem menggalang kekuatan dari partai-partai lain.

Artinya, setiap kandidat yang punya potensi menang besar, Nasdem akan memanggil dan memberikan support habis-habisan.

Dengan modal empat faktor ini, Willy pernah mencoba mengajak beberapa partai di Riau untuk membangun political block, namun ternyata partai-partai lain memiliki variabel yang berbeda dengan Nasdem.

“Saya sudah coba komunikasi dengan Golkar, buat political blok, ternyata variabel yang dibuat Golkar berbeda. Begitu juga PKS. Preferensi kita beda. Golkar dan PKS itu pakai kader proximity. Kalau Nasdem, kami tidak peduli mana kucing hitam, kucing merah, dan kucing biru. Yang penting bagi kita, kucing itu bisa nangkap tikus,” tuturnya.

Sebagai partai baru, Willy mengaku, partainya tidak se-established partai lain yang sudah memiliki kader yang kuat dan banyak. Dalam Pileg, Willy menganalogikan Nasdem layaknya Manchester City dan Real Madrid.

“Kalau pemilihan Caleg, kita ada program ‘Nasdem Memanggil’. Nasdem ini seperti Manchester City dan Real Madrid. Kita tidak bisa seperti PDIP yang mirip Barcelona punya La Masia. Starting-nya berbeda, jadi kita harus adaptif,” terangnya.

Lebih jauh, terkait Pilkada Serentak di Riau, Nasdem saat ini menantikan komitmen para kandidat yang sudah diusungnya, dimana mereka berjanji akan berjuang penuh untuk bisa memenangkan Pilkada.

Karena kata Willy, domain partai pada Pilkada sebenarnya adalah domain kandidasi. Artinya, setelah partai memberikan dukungan, para kandidat harus berjuang bersama para relawan.

“Calon itu lebih pro relawan, benar kalau kader itu mesin partai, tapi relawan lebih lentur ketimbang struktur partai. Suka tidak suka, kandidat harus mengadopsi itu. Di perpolitikan Amerika yang cuma dua partai bahkan lebih parah, pakar politik disana bilang kalau partai hanya tukang jual tiket Pilkada,” kata Willy.

Dari 9 Paslon yang diusung Nasdem, 8 diantaranya menurut Willy mendapatkan hasil survey tertinggi, hanya Rokan Hilir yang harus betul-betul berjuang supaya bisa menang di Pilkada ini.

“Saat ini yang kita usung adalah mereka yang punya potensi menang tinggi, diatas kertas begitu. Jadi, kita tunggu komitmen mereka,” tutupnya.***



Sumber : https://www.goriau.com/berita/baca/willy-aditya-cerita-tentang-nasdem-yang-selalu-menang-banyak-di-pilkada-serentak-hingga-sulitnya-membangun-political-bloc.html
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...