займ на карту онлайн

Stadion Utama Riau, Dulu Dipuja Kini Bagaimana Nasibnya?


PEKANBARU (CAKAPLAH) – Tahun 2012 menjadi tonggak sejarah perjalanan panjang Provinsi Riau sebagai daerah otonom di Indonesia. Di tengah kesenjangan pembagian kue pembangun nasional, Riau sukses menyelenggarakan helat akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII.

Bermodal dasar Tiga venue, Riau berhasil meyakinkan pemerintah pusat, dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sebagai tuan rumah PON.

Tidak hanya sukses dalam penyelenggaraan, Riau juga sukses dalam meraih prestasi dan mendongkrak perekonomian masyarakatnya melalui pembangunan infrastruktur yang cukup signifikan.

Hampir semua daerah atau 12 Kabupaten dan kota dilibatkan dalam menyukseskan pesta olahraga lima tahunan itu. Tiap kabupaten ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara pertandingan.

Tak hanya itu, kampus-kampus perguruan tinggi turut dilibatkan dalam catur sukses PON perdana di Bumi Melayu. Selain venue pertandingan, Pemprov Riau ketika itu juga membangun sarana penunjang seperti asrama atlet atau sekarang menjadi Rusunawa.

PON XVIII ketika itu juga memiliki dampak positif dalam percepatan perputaran ekonomi di Riau. Semua sektor ikut bergerak menikmati keuntungan dari helat PON tersebut. Mulai dari perhotelan, material bangunan, transportasi, pariwisata, investasi, pusat perbelanjaan hingga usaha kuliner ikut merasakan untung pelaksanaan PON XVIII.

Dari puluhan venue yang berhasil dibangun Pemprov Riau, Stadion Utama Riau di kawasan kampus Universitas Riau yang paling banyak menyita perhatian.

Decak kagum akan dirasakan oleh siapapun yang melihat secara langsung kemegahan stadion modern ini. Bagaimana tidak, stadion berkapasitas 47 ribu penonton ini merupakan yang pertama di Indonesia mengusung konsep tempat duduk tunggal atau single seat.

Bahkan stadion nasional RI saja Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta ketika itu belum menggunakan sistem single seat layaknya stadion modern di daratan Eropa.

Tak hanya itu, sarana penunjang Stadion Utama Riau juga disebut-sebut memiliki kualitas terbaik Indonesia kala itu. Mulai dari sound sistem, lintasan atletik, lampu penerangan stadion hingga rumput lapangan, khusus didatangkan dari luar negeri.

Tak heran, federasi sepakbola Indonesia dan Pemerintah RI saat ini banyak memberikan porsi lebih kepada stadion yang dibangun era Gubernur Rusli Zainal itu sebagai venue pertandingan bertaraf Internasional.

Namun, seiring berjalannya waktu, stadion megah yang dielu-elukan sebagai stadion terbaik itu mulai terabaikan perawatannya. Proses pembayaran utang stadion yang larut dan berlangsung alot, turut serta mengganggu penganggaran perawatan stadion.

Sejak era Gubernur Rusli Zainal tak lagi menapaki pimpinan tertinggi di Pemerintahan Provinsi Riau, kondisi stadion mulai mengalami banyak kerusakan.

Pemerintahan Gubernur Annas Maamun sebagai pengganti Rusli Zainal tidak menjadikan perawatan stadion Riau sebagai salah satu prioritasnya. Sehingga tidak heran, utang Pemprov Riau kepada konsorsium yang membangun stadion tak pernah dibicarakan.

Alhasil, stadion megah yang dulu menjadi kebanggaan ketika itu menuai cercaan dari masyarakatnya sendiri, karena pemerintah sebagai pemilik tak mampu menjaga aset ini dengan baik.

Bahkan, ketika Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi melakukan kunjungan ke Riau medio 2015 lalu, ia mendapati kondisi stadion cukup mengenaskan. Sebagian besar bagian dalam stadion dipenuhi tumbuhan liar dan semak belukar. Bahkan secara tegas Imam Nahrowi menyayangkan tidak terawatnya Stadion Utama Riau tersebut.

Untuk itu, dalam kunjungannya ke sejumlah venue eks Pekan Olahraga Nasional di Pekanbaru saat itu, Imam Nahrowi menyampaikan pemerintah akan melakukan sejumlah terobosan guna memaksimalkan venue eks PON agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Harus ada terobosan dan pembicaraan mendalam agar bangunan yang memakai dana rakyat tersebut dapat dimanfaatkan. Kalau seperti ini kan mubazir,” kata Imam kala itu.

Baru di era Gubernur Riau Andi Rachman yang notabene pengganti Annas Maamun yang tersandung kasus dugaan korupsi, persoalan utang stadion akhirnya terselesaikan.

Hanya saja, penyelesaian utang itu tidak dibarengi dengan kebijakan politik anggaran yang berpihak kepada pelestarian aset berharga tersebut.

Pemprov Riau ketika itu hanya sekedar mengalokasikan anggaran pemeliharaan rutin saja. Seperti pemotongan rumput lapangan dan penempatan penjaga keamanan stadion.

Sementara kondisi sarana dan prasarana di dalam stadion sudah banyak mengalami kerusakan dan lapuk akibat minimnya perawatan.

Lintasan atletik yang kumuh dan rusak, rumput stadion yang tidak lagi original alias sudah bercampur dengan rumput liar, atap stadion yang mulai ditumbuhi rumput liar hingga toilet yang tidak berfungsi dan kumuh.

Tak hanya itu, di luar stadion juga banyak memerlukan sentuhan perbaikan. Gerbang pintu masuk stadion, loket penjualan karcis mengalami rusak cukup berat. Lanscape sekitar stadion juga tampak sangat tidak pernah diurus

Memasuki era Gubernur Riau Syamsuar saat ini kondisi stadion utama Riau belum banyak mengalami perubahan. Kerusakan demi kerusakan yang terjadi tak kunjung mendapatkan perhatian serius.

Padahal, saat ini banyak daerah lain di Indonesia mulai berlomba-lomba membangun stadion baru. Hanya saja, stadion baru daerah lain tersebut dibarengi dengan keberpihakan pemdanya dalam mengalokasikan anggaran perawatan agar memadai.

Tak hanya sebagai kebangaan, pastinya stadion-stadion baru ini memiliki keunggulan masing-masing. Disamping itu, dipastikan pula stadion baru ini banyak dilirik PSSI sebagai venue pertandingan yang masuk di agenda mereka, yang tentunya jadi ajang promosi gratis bagi daerah pemilik stadion.

Hanya saja, Provinsi dan Kota lain di Indonesia sudah memiliki badan usaha ataupun badan pengelola stadion. Sehingga tanggungjawab perawatan dan penggunaan stadion dikelola secara profesional.

Berikut beberapa stadion yang dibangun Pemda di Indonesia

-Stadion Pakansari Cibinong, Bogor (Jabar). Stadion internasional ini sangat terawat dan sering menyelenggarakan even sepakbola taraf internasional bahkan kerap jadi hombase timnas Indonesia.

Stadion Patriot Candrabagha, Bekasi, Jawa Barat. Sama dengan stadion pakansari, stadion patriot juga sangat terawat. Stadion tipe madya ini kerap dijadikan venue pertandingan internasional dan pemusatan latihan timnas

– Stadion Gedebage dibangun oleh Pemprov Jabar. Stadion pembukaan PON XIX itu sangat terawat dan menjadi salah satu hombase tim Liga I Indonesia Persib Bandung.

– Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya (Jatim). Stadion ini sangat terawat dan kini di upgrade dengan mengusung sistem single seat. Stadion berkapasitas besar ini jadi markas tim Persebaya Surabaya.

– Stadion Manahan Solo (Jateng) baru saja mengalami perombakan total. Kini wajah stadion tersebut semakin mewah. Stadion ini jadi markas tim sepakbola Persis Solo.

Stadion Jatidiri Semarang, Jateng. Stadion ini baru saja menjalani pemugaran total. Stadion ciamik ini jadi markas tim PSIS Semarang.

– Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang (Beberapa kali mengalami renovasi dan upgrade). Stadion yang dibangun Pemprov Sumsel dalam menyambut PON ke XVI itu sangat terawat. Sering dijadikan venue even internasional.

– Stadion Batakan Balik Papan (Kaltim) , Stadion mewah di Kaltim ini jadi markas tim sepakbola Persiba Balik Papan.

– Stadion Utama Papua. Stadion ini disiapkan jadi venue utama pembukaan PON XX ini.

– Jakarta Internasional Stadium (Sedang Proses Pembangunan) Stadium Utama Sumbar (Sedang Proses Pembangunan).***

Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com


Sumber : https://www.cakaplah.com/berita/baca/69508/2021/05/15/stadion-utama-riau-dulu-dipuja-kini-bagaimana-nasibnya/
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...