Sedikitnya 150 Migran Dibebaskan Dari Para Pedagang Manusia, Hidup Dalam Penjara Rahasia yang Kotor dan Pengap


Para migran yang diselamatkan, yang berasal dari Somalia, Eritrea dan Sudan, dibawa ke tempat penampungan di mana mereka diberi makanan, pakaian, dan selimut.

Penggerebekan itu menunjukkan bahaya yang dihadapi para pengungsi dan migran di Libya yang dilanda konflik, yang telah muncul sebagai titik transit integral bagi migran Afrika dan Arab yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan ke Eropa.

Libya mengalami kekacauan setelah pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan dan membunuh penguasa lama Muammar Gaddafi. Negara ini terbagi antara pemerintah yang diakui secara internasional yang berbasis di ibu kota, Tripoli, dan pemerintahan saingan di timur negara itu.

Para pedagang manusia telah mengeksploitasi kekacauan tersebut dan sering mengemas keluarga-keluarga yang putus asa ke dalam perahu karet yang tidak lengkap yang terhenti dan didirikan di sepanjang rute Mediterania yang berbahaya.

Ribuan orang tenggelam di sepanjang jalan, sementara yang lain ditahan di kandang penyelundup yang kotor atau pusat penahanan yang padat.

Dalam pengakuannya ke Al Jazeera, seorang pedagang manusia dengan nama samaran, Salman,  mengatakan kebanyakan imigran terpaksa terjun ke dalam prostitusi dan dieksploitasi secara seksual. Para imigran juga membutuhkan uang untuk menyelendupkan mereka ke wilayah suaka. Namun, kebanyakan dari mereka berakhir dengan dibunuh oleh penyelundup di gurun atau mati karena kehausan dan kecelakaan mobil saat dibawa ke gurun Libya. Salman, menjelaskan bisnisnya makin meningkat beberapa kali lipat setelah pimpinan Libya yang berkuasa lama, Muammar Khadafi, digulingkan.

Imigran dipaksa tinggal di ruang kosong yang rusak tanpa sanitasi yang memadai.

Baca Juga: Dianggap Dukung Teroris, Iran Tolak Kehadiran Tentara Turki di Wilayah Suriah dan Turki

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) telah melakukan wawancara dengan imigran dari negara-negara di Afrika Barat yang menceritakan pengalaman mereka diperjualbelikan.

Salah satu imigran asal Senegal menyebutkan, dia ditahan di sebuah rumah pribadi di Shaba bersama 100 orang lainnya. Mereka dipukul dan dipaksa untuk menghubungi keluarga mereka agar menyiapkan uang tebusan guna membebaskan mereka. 

Beberapa yang tidak dapat membayar penyelundupnya juga dilaporkan dibunuh dan dibiarkan hingga mati kelaparan. Ketika imigran mati atau sudah dibebaskan, akan masuk imigran lainnya menggantikan tempat mereka.
 



Sumber : https://www.riau24.com/berita/baca/1614045134-sedikitnya-150-migran-dibebaskan-dari-para-pedagang-manusia-hidup-dalam-penjara-rahasia-yang-kotor-dan-pengap
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...