KPAI Kritik Nadiem Makariem



Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, mengkritisi kebijakan dan pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem.

Retno mencatat ada tiga poin utama kritiknya kepada Nadiem, mulai dari pernyataan soal Sekolah Negeri, pembagian jalur zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2020, hingga masalah pembelajaran Jarak Jauh.

Retno kaget saat mengetahui statement Nadiem soal Sekolah Negeri dan menduga bahwa Nadiem tidak memahami konstitusi Republik Indonesia terkhusus tentang pendidikan di Indonesia.

“Saya terkejut membaca berita di media online terkait pernyataan Anda bahwa sekolah negeri seharusnya diperuntukkan bagi siswa dengan tingkat ekonomi rendah atau dengan kata lain anak dari keluarga miskin,” tulis Retno terkait poin pertama dalam kritiknya.

“Silakan disimak bunyi pasal 31 UUD 1945, yang dengan sangat jelas mengamanatkan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat dan mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Ini adalah tanggung jawab pemerintah ataupun Negara dalam kemajuan bangsa ini,” ujar Retno.

Pada poin kedua, Retno mengkritik keputusan Nadiem untuk menurunkan jalur zonasi dalam PPDB 2020 dari 80 persen menjadi 50 persen. Padahal, menurut Retno, kebijakan itu lahir untuk mencegah pendidikan menjadi pasar bebas.

“Dasar kebijakan PPDB sistem zonasi adalah mencegah pendidikan menjadi pasar bebas sehingga Negara harus hadir, dengan demikian seluruh anak Indonesia, baik kaya maupun miskin, pintar maupun tidak, berkebutuhan khusus atau tidak berhak belajar di Sekolah Negeri, asalkan rumahnya secara jarak dekat dengan sekolah yang dituju,” paparnya.

Dan pada poin terakhir, Retno menilai Nadiem tak sanggup mengatasi persoalan pembelajaran jarak jauh bagi puluhan juta anak Indonesia di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

“Tidak terlihat langkah-langkah konkrit Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengatasi berbagai kendala Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), padahal hasil survei berbagai pihak terhadap PJJ pada fase pertama seharusnya dapat dijadikan dasar menyelesaikan masalah. Namun, tidak ada terobosan apapun selama berbulan-bulan, sehingga permasalahan pelaksanaan PJJ fase kedua masih sama dengan fase pertama,” tutur Retno.

Hasil survei yang dilakukan oleh KPAI menunjukkan bahwa 66 persen orangtua dari 196.546 koresponden menolak dimulai kegiatan belajar-mengajar pada 13 Juli 2020. Namun, penolakan mereka berbeda dengan sikap peserta didik yang justru setuju jika sekolah segera di buka, dengan perolehan sebanyak 63,7 persen dari 9.643 responden. Sementara, sikap para pendidik dari jumlah sampel 18.111 responden tenaga pengajar sama dengan para peserta didiknya, yaitu 54 persen setuju jika sekolah segera dibuka.

“Para guru dan siswa mendukung sekolah dengan tatap muka karena PJJ di fase pertama dinilai tidak efektif dan sarat kendala, baik bagi siswa maupun bagi guru itu sendiri,” tutur Retno.

Kendala selama wabah pandemi virus corona (Covid-19) menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makariem.

Saat Nadiem berkunjung ke berbagai sekolah di Bogor, Jawa barat, ia mengakui bahwa PJJ di tengah pandemi virus corona (Covid-19) terkendala oleh kekuatan jaringan internet, banyak peserta didik di berbagai daerah Indonesia tak bisa mengikuti kegiatan belajar-mengajar dengan maksimal, efektif dan efisien.

“Saya sadari kondisi ini sangat serius dan perlu segera diatasi, karena faktor ini adalah penentu penyampaian konten pembelajaran kepada siswa,” tutur Nadiem.

Nadiem mengungkapkan setidaknya ada empat hal yang harus dilakukan orang tua dan peserta didik agar bisa mengikuti PJJ dalam kondisi yang krusial saat ini. Di antaranya, sarana pembelajaran atau gadget (gawai), membeli paket data, penerapan kurikulum yang tak sederhana serta penerapan pendidikan karakter.

Penulis: Andes

Editor: Daus

Sumber : https://wajahriau.com/komisioner-komisi-perlindungan-anak-indonesia-kpai-bidang-pendidikan-retno-listyarti-kritisi-kebijakan-menteri-pendidikan-dan-kebudayaan-nadiem-makariem/
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...