Indonesia Dalam Ancaman! | Media Online Riau Dakwah & Berita


DATARIAU.COM – Tak dipungkiri Covid-19 makin memperburuk kondisi segala aspek yang ada. Bukan hanya di Indonesia tapi juga dunia yang terperangkap oleh pandemi yang tak kunjung usai dan tak tau kapan berahirnya. Di Indonesia saja segala sektor yang ada terbilang memburuk dan tak ada yang dapat dikatakan dalam keadaan baik-baik saja. Banyak sektor yang tertekan sejak mewabahnya virus corona atau Covid-19 di Indonesia, diantaranya yaitu rumah tangga, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), korporasi, sektor keuangan dan lain sebagainya.

Sektor rumah tangga sudah jelas mengalami penurunan cukup besar dari sisi konsumsi, mulai awal pandemi hingga saat ini. Meski masyarakat sudah bisa beraktivitas di luar rumah dengan kebijakan new normal, namun daya beli masih menurun. Tak hanya itu, sektor rumah tangga juga terancam kehilangan pendapatan utuh. Karena tidak dapat bekerja dengan leluasa tersebab pandemi, terutama bagi keluarga miskin dan rentan di sektor informal. 

Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) juga tak elak mengalami tekanan akibat tidak dapat melakukan kegiatan usaha. Sementara itu pada sektor korporasi yang akan paling terganggu aktivitas ekonominya adalah manufaktur, perdagangan, transportasi, serta akomodasi seperti perhotelan dan restoran.

Dan saat ini, perekonomian dunia benar-benar memburuk. Bagaimana tidak? Resesi berada di depan mata. Bahkan, dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Ekonomi Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi COVID-19 terus bertambah banyak (DetikFinance.com, 18/7/2020).

Menurut Wikipedia, resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.

Resesi bisa terlihat dari beberapa tanda, misalnya saja pendapatan masyarakat menurun, angka kemiskinan bertambah penjualan anjlok dan lain sebagainya. Kemudian bagi perbankan, resesi ditandai dengan meningkatnya angka kredit macet alias non performing loan (NPL). Kemudian di Pemerintahan resesi ditandai dengan meningkatnya angka utang luar negeri dan lain sebagainya.

Resesi bukan hanya akan menghantam Indonesia. Namun, beberapa negara sudah terpukul lebih dulu. Seperti Jepang, Jerman, Hong Kong, Perancis, Italia, dan Singapura. Dan bisa jadi negara-negara lain akan ikut mengalami resesi terlebih bagi negara-negara yang terkena pandemi.

Resesi Buah Dari Sistem Kapitalis

Resesi menjadi problem tersendiri di Indonesia. Bahkan menjadi problem yang cukup serius. Sebelum wabah menghampiri Indonesia saja kondisi ekonomi Indonesia memang sudah mengalami kelesuan. Artinya kondisi ekonomi Indonesia terbilang jauh dari kata baik-baik saja. Apalah lagi ketika ada pandemi. Kondisi ekonomi makin parah.

Memang, jika kita menengok kebelakang, betapa perlambatan ekonomi Indonesia juga sangat signifikan sejak triwulan I-2019. Krisis makin parah dibandingkan krisis yang sudah pernah terjadi sebelumnya yakni pada 1998.

Beginilah yang terjadi ketika fondasi ekonomi negeri dalam sistem kapitalisme  sangat rapuh. Maka solusi menghadapi resesi bukan hanya sekadar menabung dan menjauhi gaya hidup boros. Sebagaimana yang dianjurkan oleh pemerintah. Sebab, krisis ini bersifat sistemis bahkan fundamental.

Nah, maka sebab itu solusi atas ancaman resesi ini harusnya bukanlah anjuran yang sifatnya individual saja. Namun, harus solusi sistemis bahkan fundamental. Yakni mengubah sistem ekonomi kapitalisme menjadi sistem yang dapat menangani berbagai masalah ekonomi dan seabrek persoalan-persoalan lainnya. Dan solusi tersebut hanya ada dalam sistem Islam.

Lantas, seperti apa sistem Islam dalam menangani pandemi? Nah, sistem Ekonomi Islam adalah sistem yang dapat menangani krisis, yakni berdasarkan pada ekonomi riil. Maka, dibutuhkan pengaturan ekonomi yang diawali dengan menata pembagian kepemilikan sesuai tatanan syari’ah. Dengan membagi  kepemilikan tersebut menjadi tiga bagian, yakni kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara.

Mengapa dilakukan pembagian kepemilihan terlebih dahulu? Hal ini dilakukan agar tidak terjadi hegemoni ekonomi. Yang mana pihak kuat menindas yang lemah. Misalkan saja seperti pencaplokan kepemilikan umum oleh swasta, baik asing maupun lokal. Dan dalam kapotalisme hal ini kerap terjadi. Maka dalam tatanan sistem Islam, hal ini jelas dilarang. Islam melarang individu dan swasta untuk memiliki SDA yang mana SDA tersebut menguasai hajat hidup orang banyak.

Banyak sudah pencaplokan yang terjadi di negeri ini. Bagaimana tidak? para kapitalis menggurita dan menguasai negeri ini dengan menguasai berbagai sektor yang ada. Seperti sektor tambang, migas, kehutanan, sumber daya air, jalan umum, pelabuhan laut, bandara, dan masih banyak lagi. Lihat saja, sudah berapa banyak sektor yang dikuasai oleh asing di negeri ini. Sehingga yang terjadi adalah, Indonesia yang bergelar Zamrud di Khatulistiwa namun tak dapat mensejahterkan rakyatnya. Padahal Indonesia kaya akan SDA.

Maka, benarlah bahwa Islam mengatur dengan sedemikian rupa terkait  pembagian kepemilikan yang sudah diatur secara tegas dan benar oleh syari’ah, maka langkah selanjutnya adalah membangun dan mengembangkan ekonomi dengan bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil dan bukan sektor ekonomi nonriil.

Kemudian, baik individu, masyarakat, maupun negara, mendistribusikan harta kekayaan yang dimilikinya untuk berkontribusi dalam menangani terjadinya krisis.

Ekonomi Islam juga menjamin seluruh rakyat Indonesia terpenuhi semua kebutuhan dasarnya. Pendistribusian yang cepat dan cermat juga tepat sasaran dengan pendataan yang baik oleh para petugas-petugas yang sudah ditunjuk dengan sifat amanah yang dimilikinya. Bukan hanya itu, Ekonomi Islam juga menjamin seluruh rakyatnya dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder dan tersiernya. Tidak akan ada rumah yang penghuninya kelaparan jika sistem ekonomi yang diterapkan adalah sistem ekonomi Islam yang jelas pengaturannya dan sudah terbukti mampu menangani berbagai krisis yang ada.

Tersebutlah pada masa kejayaan Islam kala itu, yakni pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tidak ditemukannya satu orang pun yang berhak menerima zakat, karna sakin sejahteranya kehidupan rakyatnya. Tidak ada terjadi krisis karna sistem ekonomi terbaik yang diterapkan, yakni sistem ekonomi Islam. (*)

Wallahu’alambishoab.

Editor: Redaksi

Sumber: datariau.com


Sumber: https://datariau.com/opini/Indonesia-Dalam-Ancaman- قالب وردپرس
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...