Saling Kunci di Pilkada Dumai



Gosib politik, dan analisa dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Kota Dumai 2020, semakin hangat diperbincangkan. Secara fakta, saat ini memang sudah ada beberapa bakal calon (bacalon) peserta Pilkada, yang sudah mendaftarkan diri untuk dapatkan dukungan dari Parpol. Meski begitu dari para bacalon yang mendaftar tersebut belum semua memiliki pasangan.

Amris, S.Sy

Tahapan pendaftaran bacalon ini menarik untuk dicermati, sebab pada saatnya tiba nanti, bisa saja terjadi upaya saling tarik menarik antar Parpol, atau kandidat akan berlangsung alot. Dalam pengusungan calon, bisa saja akan terjadi deadlock,  Parpol dan para calon akan saling kunci.

Andaikata antar Parpol satu sama lain saling kunci dan ngotot, misalnya memaksa ingin di posisi calon Walikota, diprediksi akan buntu, demikian juga jika ada upaya partai memaksakan kadernya untuk jadi calon wakil misalnya.
Eko Suharjo

Sementara calon yang sudah memiliki pasangan juga akan deadlock. Di sisa waktu yang ada, yang dibutuhkan adalah kelenturan dan menyilau kembali apa dan siapa sebenarnya yang diinginkan masyarakat pemilih.

Eko Suharjo-Paisal dan Amris Sosok yang Paling Siap Tempur

Secara kasat mata, setakad ini sosok yang terlihat paling POPULER dan siap lahir batin untuk melakukan “Pertempuran,” dan berpeluang merebut simpati pemilih di Pilkada Dumai 2020 adalah Eko Suharjo, Paisal-Amris.

Eko Suharjo:

Eko Suharjo, selain menjabat Ketua Partai Demokrat Kota Dumai, yang saat ini memiliki 5 (lima) kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di lembaga legistlatif Kota Dumai, juga seorang wakil walikota (incumbent). Ia juga tercatat pernah duduk dua periode di lembaga legistlatif kota dumai dan Provinsi Riau sebelum akhirnya mencalonkan diri dalam Pilkada Dumai berpasangan dengan Zulkifli AS pada 2015 lalu.

Selain berbagai posisi yang dimilikinya itu, simpul-simpul sosial-politik Eko Suharjo telah sejak lama bergerak di Kota Pesisir Timur Sumatera ini. Orang tuanya Ki Parto yang merupakan tuan tanah di Kota Dumai adalah seorang dermawan yang banyak menyumbangkan tanah-tanah miliknya untuk Pandam Pekuburan kepada Ikatan-ikatan kekeluargaan dan kesukuan yang ada di Kota Dumai.

Tidak itu saja, berbagai sumbangan tanah-tanah untuk lokasi pandam pekuburan itu juga dibarengi dan penyediaan sarana Ambulance/kereta jenazah yang bertuliskan Al Qodim dan nama Ki Parto Wiguno serta nomor handphone yang bisa dihubungi lengkap di dinding mobil itu.

“Kalau kita ingat kematian ingat dengan tanah kuburan, inshaallah kita ingat dengan Ki Parto, ingat dengan Pak Eko,” ujar seorang warga yang saya temui di sebuah Pasar Tradisional saat saya tanyai tentang kandidat calon pemimpin Kota Dumai yang diidolakannya beberapa hari lalu.

Eko Suharjo diprediksi akan melaju dengan 'perahu' miliknya sendiri, yakni Partai Demokrat yang saat ini memiliki 5 kursi di DPRD. Bila menginginkan “Koalisi Ramping” Eko tinggal bermitra dengan partai yang memiliki 1 kursi saja di lembaga Legistlatif, hal itu sudah cukup bisa mengantarnya berlayar di Pilkada Kota Dumai 2020. Apakah Eko akan berkoalisi dengan Partai Hanura…? Kita tunggu babak cerita politik selanjutnya.

Paisal SKM, MARS – Amris

Paisal adalah pejabat karir yang populer di Kota Dumai, sebelum menjadi Kepala Dinas Kesehatan Paisal adalah Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Sebagai seorang direktur kala itu Paisal dikenal sangat dekat dan familiar kepada para pasien yang dibuktikan dengan kinerjanya yang tak pernah sungkan turun ke lapangan untuk menyelesaikan keluhan dan keperluan pasien yang berobat di RSUD Kota Dumai.

Popularitas Paisal kian meroket saat dirinya menjabat Kepala Dinas Kesehatan melalui program Sahabat Ambulance yang diinisiasinya, bahkan kadangkala Paisal juga sering meneleponkan atau mengantarkan langsung armada ambulance tersebut kepada warga yang memerlukan. Paisal juga dikenal melalui program Puskesmas Siaga 24 Jam guna melayani kebutuhan berobat dan bersalin warga di Kota Pesisir Timur Sumatera ini.

Tidak hanya dekat dan renponsif terhadap keluhan warga, Paisal juga dikenal akrab terhadap para professional lainnya yang ada di kota ini, karyawan, para medis, bidan maupun dokter bila mereka memiliki keluhan tentang profesi di lingkup kerjanya.

“Hmmm… Iya benar…!!! Itu standar layanan dan hak profesi yang harus dibicarakan dan dituntaskan, bagaimana kalau lusa kita langsung gelar rapat, mana profider, mana penyedia layanan, siap ya kita bicarakan dan kita rapat,” Ujar Paisal suatu ketika dalam sebuah rapat monitoring dan sempat terekam indera waspada saya.

Selain itu Paisal juga dikenal dekat dengan Majelis Taklim, Jamaah Masjid, dan anak-anak kos yang tinggal di rumah kontrakannya.

Debut terbaru Paisal adalah menghadirkan Ustadz Abdul Somad ke Kota Dumai dalam peringatan tahun baru 1 Muharram lalu.
H.Paisal. SKM, Mars

“Inshaallah Pak Paisal lah. Orangnya asyik, suka menanyakan saat berpapasan, sudah shalat belum, atau tidak pergi ke Masjid kah?,” ujar seorang staf saya yang kebetulan pernah ngontrak di rumah sewa miliknya.

Amris, pasangan calon walikota yang digadang-gadang akan mendampingi Paisal, selain seorang Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI), juga pernah menjabat anggota DPRD Kota Dumai Periode 2009-2014, saat ini aktif membuka usaha pergudangan guna memenuhi kebutuhan penyimpanan barang local dan eksport impor yang masuk atau lewat di Kota Dumai, memiliki banyak karyawan dan senantiasa aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan meski pun tak lagi menjadi orang pemerintahan.

Paisal-Amris diprediksi akan maju melalui perahu independen, diperkirakan dukungan politik yang didapatkan dari hasil 'gerilya' mereka selama ini, mencukupi untuk mengantar mereka 'berlayar' dalam Pilkada Dumai 2020. Apakah mereka akan tetap melamar ke Parpol, atau Parpol akan meminang mereka, kita nantikan babak politik selanjutntnya sebab bola politik itu masih lambung dan bergulir.

Populer memang menjadi nilai tambah bagi seorang kandidat dan elektabilitas menambah kepercayaan diri kandidat untuk menang. Salah satu model yang dikenal dalam hubungan survei dan perilaku pemilih adalah efek bandwagon. Argumen dalam efek  bandwagon, yakni seorang pemilih akan cenderung memilih seorang kandidat atau partai politik karena kandidat atau partai tersebut diopinikan akan memenangkan pemilu. 

Pemilih cenderung mengikuti pendapat mayoritas, meski tak semua kandidat yang diopinikan menang akan keluar sebagai pemenang pemilu. Itu mengapa hasil poling yang dilakukan pra-pemilu bisa mempengaruhi keputusan seorang pemilih.

Kemenangan dalam poling bisa menghadirkan kemenangan sungguhan di hari pencoblosan, atau menjadi self-fulfilling prophecy.

Namun, tak selamanya demikian. Pada 2016, kita dikejutkan dalam kemenangan Donal Trums atas Hillary Clinton. Istri Bill Clinton itu awalnya diprediksi akan memenangkan pilpres berdasarkan berbagai lembaga survei. Banyak pemilih yang mendukung Clinton salah satunya karena tak ingin Trump yang memimpin AS. 

Clinton populer sebagai seorang politikus sedangkan Trump adalah pebisnis, bintang TV dan tentunya bukan seorang politisi. Trump juga harus melawan tuduhan soal pelecehan seksual yang dialamatkan kepadanya. 

Clinton diprediksi menang karena selain ia sebagai perempuan pertama yang berpotensi menjadi presiden AS, ia juga didukung oleh kelompok kulit hitam, imigran dan keyakinan bahwa mereka yang sebelumnya memilih Barack Obama, akan memilih teman separtainya yaitu Clinton. Namun, hasil pemilu berkata lain.

Dikutip dari The Guardian, salah satu faktor yang membawa Trump menang adalah kampanye “Make America Great Again” yang pernah digunakan oleh Ronald Reagan. Ia menyasar kaum kulit putih kelompok pekerja, berpendidikan rendah dan penduduk di kota-kota kecil. 

Menjanjikan mereka pekerjaan, perbatasan yang aman (terkait maraknya teror yang terjadi di AS dan isu imigran ilegal). Ia kian diuntungkan dengan sistem pemilu AS yang menggunakan electoral vote bukan popular vote. 

Hal ini menunjukkan bahwa sosok seorang kandidat tak melulu dapat menjadi jaminan dalam memenangkan pemilu. Ferdi Akbiyik dan Ahmet Husrev Eroglu dalam tulisannya bertajuk “The Impact of Local Political Applications on Voter Choices” memaparkan bagaimana berbagai faktor dapat mempengaruhi dukungan warga.

Sementara itu, Ferdi Akbiyik dan Ahmet Husrev Eroglu menggunakan konsep political marketing. Konsep ini bertujuan untuk memengaruhi pemilih dengan menggunakan beberapa produk marketing yakni kredibilitas kandidat, program kerja kandidat serta partai politik yang mengusung mereka. 

Populer saja tak cukup untuk memperoleh suara atau menang. Program kampanye yang mengikuti isu terkini adalah komponen kedua yang harus diperhatikan kandidat. Program yang dijanjikan saat kampanye merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi preferensi pemilih dalam periode pemilihan.

Partai politik/siapa yang mengusung dan calon tidak hanya memperhatikan program mereka sendiri. Mereka harus menganalisis program dari pihak lawan, menemukan titik lemahnya, melakukan langkah menyerang. Program kampanye pun harus menjawab permasalahan yang tengah dihadapi.

Di tanah air kita, Indonesia tercinta, kejutan juga terjadi pada Pilkada Jakarta 2017. Proses pemilihan yang dilakukan dalam dua putaran itu awalnya dipimpin Paslon Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat sebanyak 42,99 persen suara. Unggul dari kandidat lainnya.

Paslon Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat memang dianggap sebagai sosok yang bekerja dengan benar. Saking populer, tak jarang warga yang berasal dari luar Jakarta memimpikan untuk memiliki gubernur seperti Ahok. Sayangnya, kepopuleran dan prestasi Ahok tak dapat membuatnya melangkah mulus menuju DKI 1. Ditambah ucapannya terkait surat Al Maidah direspons dengan penolakan besar-besaran lewat seri Aksi Bela Islam Berjilid-JIlid.

Pada putaran kedua, pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mampu mencuri suara sehingga unggul dengan perolehan suara 57,95 persen. Padahal, hingga November 2016, beberapa hasil poling menunjukkan keterpilihan Anies-Sandi ada di nomor buncit.

Di sisi lain, paslon Anies-Sandi juga memanfaatkan peluang dengan menargetkan suara dari pihak yang menentang berbagai kebijakan Ahok, misalnya soal reklamasi. Agus-Sylvi tidak berposisi secara diametral dengan petahana dalam isu tersebut.

Pada akhirnya, popularitas seorang kandidat tak serta merta dapat memuluskan jalannya dalam memenangi pemilu. Ada faktor political marketing yang kuat. Faktor ini akan memindai dan mempromosikan habis-habisan faktor yang paling menjual dari satu kandidat, sambil meneropong dan mengambil keuntungan dari hal yang dianggap sebagai kekurangan dari lawan.

Ditinjau dari jumlah komposisi ketersedian  kursi di DPRD Kota Dumai hari ini, bila ternyata Eko Suharjo memilih koalisi ramping dan akhirnya bermitra dengan Hanura,  Paisal-Amris melaju melalui perahu independen, maka jummlah kursi yang tersisa ada 24. 

Partai Nasdem 4 kursi, PDI Perjuangan 4 kursi, PKS 4 kursi, Gerindra 3 kursi, Golkar 3 kursi, PAN 3 kursi dan PPP 3 kursi. Itu artinya mereka bisa mengajukan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota 4 paket lagi.

Selamat mencarikan lawan seimbang untuk Eko Suharjo-Paisal-Amris. Sampai bertemu kembali, tapi paling tidak, kondisi kekinian di Kota Dumai telah kita analisis.

Dumai, 9 Oktober 2019

Al Ikhwan: Adalah penggiat analisis media dan Wakil Pimpinan Umum Media Massa Realtime Spirit Riau yang Bermastautin di Kota Dumai.

Sumber : http://spiritriau.com/view/Opini/140269/Saling-Kunci-di-Pilkada-Dumai.html
قالب وردپرس
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...