Ini Penilaian BI Terhadap Pariwisata Riau 



RIAUMANDIRI.CO, PEKANBARU – Pemerintah daerah di Provinsi Riau diminta untuk lebih kreatif dalam mengembangkan pariwisata, sebagai sektor alternatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di luar minyak dan gas serta kelapa sawit. Penilaian itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Decymus. 

Dikatakan Decymus, pengembangkan pariwisata Riau butuh kreativitas dan kerja sama lebih karena kondisi faktor alam tidak seindah daerah lain seperti Bali dan Sumatera Barat. Karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong kerja sama masyarakat atau asosiasi usaha di bidang pariwisata serta korporasi perkebunan.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan berbagai kegiatan atau event dan paket wisata berbasis alam atau perkebunan yang tidak terlalu membutuhkan usaha yang begitu besar (low hanging fruit).

“Seperti wisata petik durian asli Bangkinang dan Bengkalis, wisata persawahan di Bungaraya, wisata edukasi perkebunan dan pengelolahan sawit, wisata edukasi perkebunan karet dan sebagainya,” ujar Decymmus, Jumat (12/7/2019).

Kemudian kegiatan-kegiatan tersebut, lanjutnya, bisa dikembangkan sejalan dengan berbagai agenda pariwisata ataupun budaya berskala nasional dan internasional yang telah ada saat ini di Riau, seperti bakar tongkang dan pacu jalur.

“Branding kegiatan-kegiatan perlu diperkuat agar ingatan masyarakat terhadap komoditas agrowisata dan perkebunan tersebut lekat dengan Riau. Semisal, apabila ingin wisata durian, Riau lah yang menjadi tujuannya. Apabila ingin wisata edukasi kelapa sawit, Riau lah yang menjadi tujuan utamanya,” kata Decymus.

BI memprediksi ekonomi Provinsi Riau pada tahun 2019 tidak hanya bisa bergantung pada komoditas minyak bumi dan kelapa sawit karena cukup banyak risiko yang mendorong pertumbuhan ekonomi Riau lebih rendah dari perkiraan. Kondisi perekonomian Riau masih dibayangi beberapa risiko yang berupa kepastian pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia yang masih menunjukkan tren bias ke bawah dari perkiraan semula.

Perbaikan harga komoditas yang masih terbatas, terutama harga minyak dunia masih melambat sejalan dengan belum pastinya rencana penurunan produksi OPEC. Sektor pertambangan dan penggalian minyak dan gas (migas) masih cenderung melanjutkan tren kontraktif.

“Lifting minyak bumi Riau dalam lima tahun terkahir turun 5-10 persen per tahun sejalan dengan banyaknya sumur yang tua. Telah ditetapkannya PT Pertamina menjadi kontraktor KKS Blok Rokan pada 2021 mendatang menggantikan PT Chevron Pacific Indonesia semakin mempertegas bahwa pengembangan enhace oil recovery atau EOR secara skala penuh tidak akan begitu signifikan setidaknya hingga 2021,” kata Decymus.

Ia mengatakan komoditas kelapa sawit juga tidak bisa terlalu diandalkan setelah harganya terus turun sejak 2017. Kondisi harga yang rendah diprediksi terus berlangsung selama tiga tahun ke depan. Kondisi tersebut karena parlemen Eropa masih tetap akan melakukan pemberhentian penggunaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dalam biodiesel secara bertahap mulai 2020, karena perkebunan sawit dinilai tidak ramah lingkungan.

“Belum pastinya negosiasi dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat, salah satunya mengenai impor kedelai Tiongkok dari Amerika Serikat juga turut menjadi risiko bagi pergerakan harga CPO dunia,” ujarnya.



Sumber : https://www.riaumandiri.co/read/detail/71940/ini-penilaian-bi-terhadap-pariwisata-riau%C2%A0
قالب وردپرس
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...