Hari Anak Perempuan, 5 Cerita Siswa Jadi Menteri Hingga Dubes Sehari



Suara.com – Hari Anak Perempuan, 5 Cerita Siswa Jadi Menteri Hingga Dubes Sehari

Porsi perempuan menjadi pemimpin masih minim di segala bidang, hal itu membuat anak perempuan tidak punya figur panutan. Ingin menampilkan bahwa anak perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar cita-cita dan mendapat panutan, Plan Internasional Indonesia menggelar acara #GirlsTakeOver dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional pada 11 Oktober.

“Dalam acara ini, kami menyeleksi 506 anak perempuan dari berbagai kota di Indonesia untuk merasakan sehari jadi pemimpin. Yaitu menggantikan Menteri Kominfo, Director Google Indonesia, Pemimpin Redaksi hingga Duta Besar Swedia,” kata Nazla Mariza, Communication and Influencing Director Plan Indonesia saat diwawancarai Kamis (09/10/2019).

Menurutnya, anak perempuan memiliki porsi yang sama untuk menjadi pemimpin jika memiliki kompetensi. sehingga dengan kegiatan #GirlsTakeOver ini Plan Indonesia memotivasi anak perempuan lainnya bahwa tidak usah takut bercita-cita tinggi.

Penasaran bagaimana 5 anak perempuan menggantikan posisi para pemimpin selama sehari, simak cerita mereka yang sangat menginpirasi ini.

Riska, Siswa Asal Lembata, Menggantikan Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informasi RI.

“Jangankan bicara menjadi menteri, bicara jadi ketua kelas saja terasa berat. Namun saya diberi kesempatan berpidato dalam acara wisuda sebuah kampus mewakilkan pak Menteri. Awalnya gemetar, gugup namun bahagia,” katanya.

Ia menuturkan mendapat banyak pengalaman, mulai dari bertemu dengan Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, hingga mengenalkan diri saat meeting dengan para pejabat dan kedutaan luar negeri.

“Sehari jadi Menteri memotivasi saya untuk lebih belajar bahasa Inggris, menguasai public speaking dan percaya diri. Walaupun masih berusia 15 tahun, pengalaman ini akan saya jadikan bekal untuk memiliki jadi pemimpin dan menteri di masa depan” tambahnya.

Sabrina, Siswa Asal Blitar, Menggantikan posisi Managing Director Google Indonesia, Randy Yusuf.

Sabrina dengan polosnya menuturkan pakai Google untuk cari alamat atau searching tugas pada awalnya.

“Namun, sehari jadi pemimpin Google saya melihat cara kerja Google yang seabrek dan menyerap banyak fungsi teknologi seperti maps, youtube, ecommerse dan ternyata ada WomenWill untuk dukungan dan bantuan UMKM perempuan dari Google. Jadi sehabis ini saya nggak mau cuma pakai teknologi untuk iseng dan main. Karena saya mau jadi pemimpin dan menguasai banyak hal dengan memanfaatkan teknologi,” jelasnya.

Manda, Siswa Asal Bogor, Menggantikan Posisi Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Nezar Patria

Manda mendapat kesempatan tidak terduga saat menjadi Pimred, ia diberi mandat secara formal dalam rapat menjadi pimred sehari yang kemudian membuatnya bisa memberi perintah.

“Iya, menyadari betapa pentingnya media untuk menyosialisasikan bahwa perempuan bukan objek, saya pun memperhatikan foto yang terbit dan sempat mengkritisi foto maneken perempuan tanpa busana agar diganti. Langsung diganti saat itu juga. Lalu saya pilih headline untuk 11 Oktober mengangkat isu Anak Perempuan dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional juga diterima,” katanya.

Wafi, Siswa asal Surakarta Menggantikan posisi Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Marina Berg

“Saya belajar table manner, public speaking dan mengenal banyak tokoh internasional saat sehari menjadi Duta Besar Swedia. Pengalaman yang membuat saya untuk tidak takut bermimpi dan harus menjadi orang yang berwawasan luas, menerima kritikan hingga memaparkan pendapat tanpa menjatuhkan siapapun,” katanya.

Naura, siswa asal Magelang menggantikan posisi Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Usman Kansong

“Ternyata proses kerja di media itu bukan cuma bikin berita. Tapi harus mencari ide, menentukan narasumber, wawancara, mengolah, mengedit hingga memeriksa dan melakukan semua itu prosesnya dari pagi ke pagi nggak ada berhenti, ada aja yang dikerjai,” katanya.

Menurutnya pengalaman melihat langsung kerja media membuatnya belajar menghargai informasi dan menjadi orang yang miliki ingin tahu dan curious lebih besar.

“Jadi pemimpin di masa depan bukan lagi hal yang tidak mungkin bagi saya, saya sudah lihat gambarannya dan merasa yakin saya bisa,” jelasnya.

Wah, serunya pengalaman 5 anak perempuan dari berbagai kota di Indonesia jadi pemimpin sehari cukup menginspirasi bukan. Jadi nggak perlu menunggu cari figur, ciptakan figurmu sendiri dari orang-orang inspiratif dan jadilah pemimpin. Yuk mulai dari sekarang.  


Sumber : https://www.suara.com/lifestyle/2019/10/10/190000/hari-anak-perempuan-5-cerita-siswa-jadi-menteri-hingga-dubes-sehari
قالب وردپرس
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...