Harga TBS Terus Anjlok, Ini Penjelasan Disnakbun Rohul


PASIRPENGARAIAN (CAKAPLAH) – Dinas Perternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, angkat bicara terkait anjloknya harga Tandan Buah Sawit (TBS) beberapa pekan terakhir. Menurutnya, anjloknya harga TBS di Rohul umumnya dirasakan petani sawit dengan status kebun pribadi.

Plt Kepala Dinas Perternakan dan Perkebunan Ir. Sri Hardono MM mengatakan, berdasarkan penetapan harga TBS yang ditetapkan bersama tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau, untuk periode 10-16 Juli 2019 penurunan harga Sawit tidak terlalu signifikan yakni sekitar Rp.1.324,1/Kg untuk umur 10-20 Tahun. Dan harga yang ditetapkan tersebut, menjadi standar harga pembelian TBS di seluruh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Riau.

Terlapas dari adanya ketetapan harga tersebut, fakta di lapangan menunjukkan, masih banyak petani sawit di Rohul yang mengeluhkan murahnya harga TBS, yang bahkan telah menyentuh harga terendah yakni Harga Rp500-700/Perkilonya.

Menanggapi Hal itu, Sri Hardono menjelaskan, Harga TBS yang hanya berkisar Rp500 sampai Rp700 perkilogram itu umumnya dirasakan petani berstatus kebun pribadi bukan kerjasama dengan perusahaan.

Sri Hardono menyebut, ada 3 faktor yang mempengaruhi anjloknya harga TBS kebun pribadi, seperti rendahnya rendemin TBS karena Perawatan yang tidak sesuai standar, adanya biaya lansir karena lokasi kebun yang jauh dan menjual kepada pengepul yang pastinya harganya di bawah harga pabrik.

“Karena panjangnya alur distribusi inilah menyebabkan biaya yang dikeluarkan petani untuk menjual ke pabrik pun semakin besar sehingga berdampak kepada harga jual TBS itu sendiri,” cakap Sri Hardono kepada Cakaplah Rabu (10/7/2019)

Untuk itu Sri Hardono menyarankan ke depan para petani kebun pribadi agar dapat mengurus Surat Tanda Daftar Perkebunan (STDP) agar bisa menjual TBS ke pabrik dan pabrik tidak bisa menekan Harga.

Meski Demikian, Sri Hardono mengakui secara global harga TBS mengalami penurunan. Hal tersebut disebabkan karena anjloknya harga crude palm oil (CPO) khususnya asal Indonesia.  

Diterangkanya, ada beberapa penyebab anjloknya harga CPO Indonesia, salah satunya banyaknya perusahaan, khususnya di Rohul yang belum memiliki Sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) sebagai standarisasi tata kelola sawit berkelanjutan.

Dalam ISPO ini, diatur tata kelola usaha perkebunan sawit yang menjamin produksi tetap mengedepankan aspek-aspek lingkungan seperti tidak berada di kawasan hutan, pembukaan lahan yang ramah lingkungan dan tidak dilakukan dengan cara membakar dan lain sebagainya.

“Di luar negeri itu konsumen selalu menanyakan legalitas CPO-nya resmi enggak ini, kalau enggak legal mereka tak mau beli, Nah ISPO ini semacam bukti. Tapi faktnya di Rohul saja hanya beberapa perusahaan yang punya ISPO. Yang tak punya ISPO jual CPO-nya ke perushaaan yang punya ISPO dengan harga murah, ujung-ujungnya perusahaan yang tak Punya ISPO ini tekan harga TBS,” pungkas Sri Hardono.

Untuk saran dan pemberian informasi kepada CAKAPLAH, silakan kontak ke email: redaksi@cakaplah.com


Sumber : https://www.cakaplah.com/berita/baca/2019/07/10/harga-tbs-terus-anjlok-ini-penjelasan-disnakbun-rohul/
قالب وردپرس
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...